Mengenai Saya

Foto saya
Mataram, NTB, Indonesia
Saya simpel aja, gak neko - neko, punya keinginan yang kuat dalam menggapai tujuan, tidak suka dibohongi n selalu apa adanya. saya dilahirkan di pulau seribu masjid pada 25 September 1968 dan mengikuti pendidikan SD di SDN No 1 Kekait, selanjutnya sekolah SMP di SMPN no 1 Gunungsari, Lombok Barat. Selanjutnya saya masuk SMAN No. 1 Mataram dan tamat pada tahun 1987 lalu saya masuk Sekolah Menengah Analis Kesehatan Mataram dan selesai tn 1992. Pada tahun 2002 saya menyelesaikan S1 MIPA konsentrasi Biologi di Universitas Nahdlatul Wathan Mataram dan selanjutnya saya mengikuti pendidikan pasca sarjana di IMNI Jakarta konsentrasi Magister Manajemen Kesehatan.

Selasa, 30 Juni 2009

MIKROBIOLOGI

MEDIA DAN REAGENSIA


PRAKTIKUM 1


A. EMBA

Ø Judul : Pembuatan Media EMB

Ø Hari / Tanggal : Sabtu, 18 Oktober 2008

Ø Kelompok : II

Ø Dasar Teori :

1. Kegunaan : untuk mendeteksi dan mengisolasi pathogen Enterobacteria

2. Komposisi media :

Peptone 10,0 gr

Di-Potassium hydrogen phosphate 2,0 gr

Lactose 5,0 gr

Sucrose 5,0 gr

Eosin yellowish 0,4 gr

Methylene blue 0,07 gr

Agar-agar 13,5 gr


Alat :

Neraca pipet tetes

Waterbath pipet ukur

Autoclave batang pengaduk

Cawan petri tabung+rak tabung

Erlenmeyer

Sendok tanduk

Kertas pH


Bahan :

Powder EMB

Aquadest 200 ml

Kapas

KOH


Cara kerja :

a. Siapkan alat dan bahan

b. Timbang reagen 7,9 gr (sesuai dengan kebutuhan, berpedoman pada cara pembuatan media yang tertera pada botol reagen

c. Ukur pH aquadest 6,8±0,2. Jika pH masih di bawah ketentuan ( <5)>7) maka tambahkan HCL.

d. Bahan yang telah ditimbang dilarutkan di dalam aquadest 200ml lalu di aduk. Karena tidak semua langsung larut maka digunakan waterbath untuk melarutkannya.

e. Larutan yang telah larut kemudian disterilkan di dalam autoclave Selama 15 menit setelah mencapai 121ºC

f. Setelah 15 menit larutan dikeluarkan dari autoclave dan dituang ke dalam 10 plate yang telah disiapkan.

g. Plate yang telah diisi media tadi disimpan sampai dingin dan padat.kemudian di simpan dalam lemari Es


B. MEDIA MAC CONKEY

Ø Judul : Pembuatan Media Mac conkey

Ø Hari / Tanggal : Sabtu, 18 Oktober 2008

Ø Kelompok : II

Ø Dasar Teori :

1. Kegunaan Media Mac Conkey : untuk menumbuhkan bermacam-macam kuman khususnya untuk kuman gram negative basil seperti Salmonella, Shigella, Hidrocolera, E. Coli.


2. Komposisi Media :

· Peptone 20,0 gr

Sebagai sumber nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri

· Lactose 20,0 gr

Sebagai sumber energy dan bahan karbohidrat

· Bile salt 5,0 gr

Sebagai penghambat tumbuhnya bakteri gram positif (+)

· Sodium chloride 5,0 gr

Sebagai pengatur keseimbangan tekanan osmosis pada media

· Neutral Red 0,075 gr

Sebagai indicator untuk mengetahui terbentuk tidaknya asam karena pemecahan karbohidrat

· Agar 12,0 gr

Sebagai bahan pemadat media dan tempat tumbuhnya mikroba

Ø Alat dan Bahan :

1. Alat :


- Neraca

- Water Bath

- Autoclave

- Cawan Petri Steril

- Erlenmeyer

- Sendok Tanduk

- Kertas pH

- Pipet Tetes

- Batang pengaduk

- Pipet ukur


2. Bahan :


- Powder Mac conkey

- KOH

- Aquadest

- Kapas


Ø Cara Kerja

1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Menimbang bahan

Penimbangan reagent dilakukan sesuai dengan kebutuhan/volume yang akan dibuat dan berpedoman kepada cara pembuatan yang tertera pada botol reagent.

Pada botol tertera 52 gram dalam 1 liter, sementara yang akan dibuat 10 plate, dalam 1 plate terdiri dari 20 ml.

dalam 200 ml

3. Mengatur pH aquadest

Untuk menghindari kesalahan pembuatan media khususnya media Mac conkey, salah satunya harus memperhatikan pH aquadest yang digunakan. pH aquadest yang diatur pHnya sesuai dengan volume yang akan kita gunakan.

pH aquadest untuk media Mac conkey yaitu 7,4±0,2, jika pH masih di bawah ketentuan atau cenderung ke asam (<5),>7), maka harus ditambahkan HCL tetes demi tetes hingga mencapai pH yang di inginkan.

4. Melarutkan bahan

Bahan yang telah di timbang dimasukkan kedalam Erlenmeyer 500 ml, sisa bahan yang menempel pada cawan yang digunakan menimbang dibilas dengan aquadest sebanyak 3 kali, kemudian tambahkan aquadest dengan pH yang telah diatur sebelumnya sampai pada garis tanda 200 ml lalu diaduk.

Karena tidak semua langsung larut maka untuk melarutkannya digunakan waterbath. Waktu pelarutan tidak ditentukan, namun sesekali harus di cek hingga tidak ada lagi butiran zat pada dinding tabung atau larutan.

5. Mensterilkan Media

Larutan yang telah larut kemudian disterilkan ke dalam autoclave selama 15 menit setelah mencapai 121°C

6. Menuang kedalam plat

Setelah 15 menit larutan dikeluarkan dari autoclave, kemudian dituang kedalam plat yang telah disiapkan lebih dahulu. Tiap-tiap plat diisi hingga permukaan plat tertutupi oleh larutan media, tidak boleh terlalu tipis maupun terlalu tebal. Pada saat menuang tutup plat dibuka sedikit saja untuk menghindari terjadinya kontaminasi.


7. Menyimpan Media

Plat yang telah diisi tadi disimpan sampai dingin dan padat. Setelah dingin media tersebut dibalik agar uap air yang ada pada tutup plat tidak jatuh kembali kepermukaan agar. Selanjutnya di bungkus lalu dimasukkan kedalam lemari es

Ø Pembahasan

Pada media yang dibuat terdapat gelembung-gelembung udara.


PRAKTIKUM 2

I. Media GULA – GULA

Ø Hari / Tanggal : Sabtu / 22 November 2008

Ø Kelompok :II

Ø Dasar Teori :

1. Kegunaan media gula-gula.

Media gula-gula digunakan dalam tes biokimia khususnya untuk melihat fermebtasi oleh kuman.

2. Kompoisi media :


Air Peptone :

Bacteriogical peptone 6 gr

Kegunaan : sebagai sumber nutrisi dan energi bagi mikroorganisme.

NaCl 3 gr

Kegunaan : sebagai sumber mineral.

Aquades 600 ml

Kegunaan : sebagai bahan pelarut.

Gula-gula “Fruktosa” 1 gr

Kegunaan : untuk melihat kemampuan bakteri menfermentasikan karbohidrat.

B T B 0,4 %

Kegunaan : sebagai indikator.



Ø Alat dan Bahan :

1. Alat :

- Neraca - Pipet tetes

- Sendok tanduk - Pipet ukur

- Erlenmeyer - Waterbath

- Tabung + rak - Autoclave

- Durham - Kapas

- Gelas beaker - Gelas kimia


2. Bahan :

- Powder bacteriogical peptone

- NaCl

- Aquades

- Powder Fruktosa

- B T B


Ø Cara Kerja :

1. Menyiapkan alat dan bahan.

2. Membuat air peptone.

Air peptone dibuat dengan melarutkan 6 gr Bacteriogical peptone dan 3 gr NaCl dalam 600 ml aquades menggunakan gelas kimia. Setelah itu air peptone yang telah dibuat dituang ke dalam enam Erlenmeyer sesuai dengan jumlah kelompok, masing-masing 100 ml. Kemudian masukkan Erlenmeyer ke dalam waterbath agar larutan dapat larut sempurna. Setelah larut, keluarkan dari waterbath.

Ambil NaOH menggunakan pipet tetes dan teteskan pada air peptone sebanyak dua tetes.

Ukurlah pH larutan. pH : ± 7,2.

3. Penambahan indicator

Masukkan BTB 0,4 % ke dalam larutan dan dikocok-kocok hingga larut hingga warnanya menjadi hijau tua.

Menuang larutan ke dalam tabung.

Sebelum menuang, tabung-tabung harus lebih dahulu disiapkan dan diisi tabung durham. Tiap tabung diisi 3 ml. tabung yang dipakai sebanyak 10 buah. Sebelum tabung-tabung ditutup dengan kapas, durhamnya dipastikan telah terisi oleh larutan gula-gula atau tidak ada lagi udara di dalam durham.

Mensterilkan gula-gula

Proses strilisasi dilakukan di dalam autoclave selama 15 menit setelah mencapai suhu 121°C.

Menyimpan media

Media yang telah steril didinginkan dan selanjutnya disimpan di dalam lemari es sampai siap digunakan.



PRAKTIKUM III

Pembuatan Media S S A (Salmonella Shigella Agar)

A. Judul : Pembuatan Media S S A

B. Hari/Tanggal : Sabtu, 22 November 2008

C. Kelompok : II

D. Dasar Teori :

1. Kegunaan Media S S A adalah untuk menumbuhkan Salmonella dan shigella, karena media ini termasuk media selektif merupakan media yang kompleks yang sangat selektif terhadap kuman-kuman tertentu.

2. Komposisi Media :

· Lab-Lemco powder 5,0 gr

Sebagai sumber vitamin B

· Peptone 5,0 gr

Sebagai sumber nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroba

· Laktose 10,0 gr

Sebagai sumber energy dan sebagai bahan karbohidrat

· Bile Salt 8,5 gr

Sebagai penghambat tumbuhnya bakteri gram positif

· Sodium Citrate 10,0 gr

Sebagai sumber nutrisi lain bagi mikroorganisme

· Sodium thiosulphate 8,5 gr

Sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme

· Ferric citrate 1,0 gr

Sebagai bahan buffer dan aseptor elektron

· Briliant green 0,00033 gr

Sebagai inhibitor atau penghambat tumbuhnya mikroorganisme lain

· Neutral red 0,025 gr

Sebagai indicator untuk mengetahui terbentuk tidaknya asam karena pemecahan karbohidrat

· Bacto Agar 13,5 gr

Sebagai bahan pemadat media

E. Persiapan Alat dan Bahan

1. Alat :


- Neraca

- Waterbath

- Cawan Petri

- Pipet tetes

- Erlenmeyer

- Sendok tanduk

- Kertas pH

- Batang pengaduk


2. Bahan :


- Salmonella Shigella

- Agar

- Aquadest

- KOH

- Kapas




F. Cara Kerja :

1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Cara penimbangan

Penimbangan reagent dilakukan sesuai dengan kebutuhan/volume yang akan dibuat berpedoman kepada cara pembuatan yang tertera pada botol reagent

Pada botol reagent tertera 60 gram dalam 1 liter oleh karena pada saat itu volume yang dibuat adalah 1000 ml, maka ditimbang 30 gram sebanyak 2 kali dan dilarutkan masing-masing ke dalam 500 ml aquadest untuk mempermudah dalam proses pelarutan

3. Mengatur pH aquadest

Untuk menghindari kesalahan pembuatan media khususnya S S A, salah satunya harus memperhatikan pH aquadest yang digunakan. pH aquadestyang di atur pH nya sesuai dengan volume yang akan kita gunakan.

pH aquadest untuk media SSA yaitu 7,0±0,2, jika pH masih dibawah ketentuan atau cenderung ke asam (<5),>7), maka harus ditambahkan HCL tetes demi tetes hingga mencapai pH yang digunakan

4. Cara melarutkan S S A

Bahan yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 1000 ml, sisa bahan yang menempel pada cawan yang digunakan menimbang dibilas dengan aquadest sebanyak 3 kali, kemudian tambahkan aquadest dengan pH yang telah di atur sebelumnya sampai pada garis tanda 500 ml lalu di aduk

Karena tidak semua langsung larut maka untuk melarutkannya digunakan waterbath. Waktu pelarutan tidak ditentukan, namun sesekali harus dicek hingga tidak ada lagi butiran zat pada dinding tabung atau larutan.

SSA tidak disterilkan dalam autoclave karena ada zat zat yang akan rusak yakni sodium sitrate dan sodium thiosulphate.



5. Menuang ke dalam plat

Tuang ke dalam plat (petridish) yang telah di sterilkan, caranya buka tutup petridish seminim mungkin untuk menghindari atau meminimalisasi terjadinya kontaminan lalu tuang larutan hingga menutupi permukaan petridish, tapi jangan terlalu tipis maupun terlalu tebal

Setelah penuangan selesai biarkan media tersebut sampai dingin dan padat. Setelah itu media tersebut dibungkus dan disimpan dalam lemari es.

G. Pembahasan

· Sebelum menggunakan aquadest terlebih dahulu di ukur pH nya sesuai dengan label yang tertera pada botol bahan yang akan digunakan

· Pada saat pembuatan media ini pH aquadest dalam keadaan asam maka ditambahkan tetes demi tetes KOH 40%, karena pada saat itu yang ada hanya KOH 40%

· Media S S A tidak disterilkan dalam autoclave karena ada zat-zat yang akan rusak yakni sodium citrate dan sodium thiosulphate.

· Pada saat melarutkan di dalam waterbath mulut Erlenmeyer harus ditutup dengan kapas untuk mengurangi terjadinya penguapan.

· Setelah medianya padat disusun dalam keadaan terbalik supaya uap air yang terdapat pada penutup plat diturun kembali ke permukaan media.


MEDIA T S I A (TRIPLE SUGAR IRON AGAR)

Ø Judul : Pembuatan Media T S I A

Ø Hari/Tanggal : Sabtu, 13 Desember 2008

Ø Kelompok : II

Ø Dasar Teori :

1. Kegunaan Media T S I A adalah sebagai differensial medium, dimana pertumbuhan bakteri memberikan koloni yang spesifik untuk masing-masing spesies yang didasarkan pada perubahan-perubahan secara kimiawi

2. Komposisi Media :

· Lab-Lemco powder 3,0 gr

Sebagai sumber vitamin B bagi mikroorganisme

· Yeast extract 3,0 gr

Sebagai sumber nitrogen

· Peptone 20,0 gr

Sebagai sumber energy / nutrisi bagi mikroorganisme

· Sodium Chloride 5,0 gr

Sebagai pengatur keseimbangan tekanan osmosis/bahan buffer media

· Lactose 10,0 gr

Sebagai sumber karbohidrat yang akan di fermentasikan oleh bakteri

· Sucrose 10,0 gr

Sebagai sumber karbohidrat yang akan di fermentasikan oleh bakteri

· Glucose 10,0 gr

Sebagai sumber karbohidrat yang akan di fermentasikan oleh bakteri

· Ferri Citrace 0,3 gr

Sebagai acceptor electron yang dapat memperlihatkan pembentukan H2S oleh bakteri dan juga sebagai bahan buffer

· Sodium thiosulphate 0,3 gr

Sebagai sumber mineral dan energy bagi mikroorganisme

· Phenol red 0,5 gr

Sebagai indikator

· Agar

Sebagai bahan pemadat media dan tempat tumbuhnya mikroorganisme


Ø Alat dan Bahan

1. Alat :


- Neraca

- Waterbath

- Autoclave

- Cawan Petri

- Pipet tetes

- Erlenmeyer

- Sendok tanduk

- Kertas pH

- Tabung+rak tabung

- Pipet ukur

- Batang pengaduk


2. Bahan :


- Powder T S I A

- KOH

- Aquadest

- Kapas




Ø Cara Kerja :

1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Cara penimbangan

Penimbangan reagent dilakukan sesuai dengan kebutuhan/volume yang akan dibuat berpedoman kepada cara pembuatan yang tertera pada botol reagent

Pada botol reagent tertera 65 gram dalam 1 liter, sementara yang akan di buat 50 ml, sehingga bahan yang ditimbang sebanyak



3. Mengatur pH aquadest

Untuk menghindari kesalahan pembuatan media khususnya media T S I A, salah satunya harus memperhatikan pH aquadest yang digunakan. pH aquadest yang di atur pH nya sesuai dengan volume yang akan kita gunakan.

pH aquadest untuk media SSA yaitu 7,4±0,2, jika pH masih dibawah ketentuan atau cenderung ke asam (<5),>7), maka harus ditambahkan HCL tetes demi tetes hingga mencapai pH yang digunakan

4. Cara melarutkan T S I A

Bahan yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, sisa bahan yang menempel pada cawan yang digunakan menimbang dibilas dengan aquadest sebanyak 3 kali, kemudian tambahkan aquadest dengan pH yang telah di atur sebelumnya sampai pada garis tanda 50 ml lalu di aduk

Karena tidak semua langsung larut maka untuk melarutkannya digunakan waterbath. Waktu pelarutan tidak ditentukan, namun sesekali harus dicek hingga tidak ada lagi butiran zat pada dinding tabung atau larutan.

5. Menuang ke dalam tabung

Setelah larut sempurna, larutan dituang ke dalam tabung yang telah disiapkan lebih dahulu. Kemudian larutan dipipet kedalam tabung sebanyak 2,5 ml larutan.

6. Mensterilkan media

Tabung-tabung yang telah terisi dengan larutan ditutup dengan kapas kemudian disterilkan ke dalam autoclave selama 15 menit setelah mencapai 121°C

7. Menyimpan media

Setelah proses sterilisasi selesai, media didinginkan dengan posisi miring, setelah padat atau membeku lalu disimpan dilemari es.

Ø Pembahasan

Setelah media ini disterilisasi usahakan tabung berposisi miring agar pertumbuhan bakteri memberikan koloni yang spesifik.


Pembuatan Media T C B S Agar

Ø Judul : Pembuatan Media TCBS Agar

Ø Hari/Tanggal : Sabtu, 13 Desember 2008

Ø Kelompok : II

Ø Dasar Teori :

1. Kegunaan Media TCBS adalah untuk mengisolasi Cholerae dan enterophatogenic

2. Komposisi Media :

· Yeast extract 5,0 gr

· Protease peptone No 3 10,0 gr

· Sodium citrate 10,0 gr

· Sodium thiosulphate 10,0 gr

· Oxgall 8,0 gr

· Saccarose 20,0 gr

· Sodium chloride 10,0 gr

· Ferric ammonium citrate 1,0 gr

· Bromthimol blue 0,004 gr

· Agar 15,0 gr

A. Petunjuk

Timbang dan larutkan 89 gram bubuk dalam aquadest, kocok hingga larut. Panaskan dalam waterbath hingga larut sempurna selama 1 menit pada suhu 45-50°C. Gunakan secepatnya. Jangan menggunakan Autoclave.

pH : 8,6 ± 0,2

simpan di tempat aman karena dapat menyebabkan iritasi pada mata, gangguan saluran pernapasan dan kulit.

PRAKTIKUM IV

JUDUL : Pembuatan Media MR/VP (Metil red/Vouges Pioskaner)

HARI/TANGGAL : Sabtu, 13 Desember 2008

KELOMPOK : II

DASAR TEORI :


1. Kegunaan media MR/VP : adalah Untuk mengetahui adanya frmentasi asam campuran atau fermentasi butanadiol dan digunakan dalam pemeriksaan laboratorium, khususnya tes biokimia.

2. Komposisi media :

Peptone from alent 7 gr

Kegunaan : sebagai sumber nitrogen, vitamin, dan mineral bagi mikroorganisme.

D (+) Glucose 5 gr

Kegunaan : sebagai bahan karbohidrat yang akan digunakan mikroorganisme dalam proses fermentasi.

Phosphate buffer 5 gr

Kegunaan : sebagai bahan buffer atau penyangga.


ALAT DAN BAHAN :

1. Alat :

Neraca Kertas pH

Waterbath Pipet Tetes

Autoclave Gelas Ukur

Batang Pengaduk beaker glass

Erlenmeyer Pipet ukur

Sendok tanduk Tabung & Rak tabung

2. Bahan :

Powder MR/VP Aquades

KOH Kapas

CARA KERJA :

1. Menyiapkan alat dan Bahan

2. Menimbang bahan

Penimbangan bahan dilakukan sesuai dengan kebutuhan atau volume yang akan dibuat dan berpedoman kepada cara pembuatan yang tertera pada botol media.

Pada Botol media tertera 17 gram dalam 1 liter, sementara yang akan dibuat hanya 20 ml (Untuk pemakaian 10 tabung, tiap tabung akan diisi masing-masing 2 ml). Sehingga bahan yang akan ditimbang sebanyak :

X gram = gr I . V(ml)

1000

= 17 . 20

1000

= 0,34 gr

Jadi, bahan yang ditimbang adalah sebanyak 0,34 gram lalu dilarutkan ke dalam aquades sebanyak 20 ml.


3. Mengatur pH Aquades,

Untuk menghindari kesalahan pembuatan media khususnya media MR/VP, salah satunya harus memperhatikan pH aquades yang digunakan. Untuk Media MR/VP yaitu 8,9±0,2 jika pH masih dibawah ketentuan atau cenderung asam. Maka harus ditambahkan dengan KOH tetes demi tetes, hingga mencapai pH yang diinginkan.


4. Melarutkan bahan

Bahan yang telah di timbang dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml., yang sebelumnya telah di larutkan dahulu menggunakan beaker glass. Sisa bahan yang menempel pada beaker glass yang digunakan menimbang dibilas dengan aquades sebanyak tiga kali, kemudian ditambahkan aquades dengan pH yang telah diatur sebelumnya. Karena tidak semua langsung larut maka untuk melarutkannya digunakan waterbath. Waktu pelarutan tidak ditentukan, namun sesekali harus di cek hingga tidak ada lagi butiran zat pada dinding tabung atau larutan.


5. Menuang ke dalam tabung.

Setelah larut sempurna, larutan dituang ke dalam tabung yang telah disiapkan lebih dahulu. Tiap-tiap tabung diisi dengan larutan sebanyak 2 ml, lalu ditutup dengan kapas, untuk menghindari kontaminasi


6. Mensterilkan media

Tabung yang telah terisi dimasukkan ke dalam autoklav dan selanjutnya disterilkan ke dalam autoklav selama 15 menit setelah mencapai 121⁰C.


7. Menyimpan media

Setelah proses sterilisasi selesai tabung-tabung tersebut dikeluarkan dari autoklav dan disimpan dalam lemari Es.


PEMBAHASAN :

Perkiraan dari awal, media yang akan dibuat sebanyak 10 tabung. Namun setelah pengisian, tabung yang terisi hanya 9 atau 8 tabung. Hal ini mungkin terjadi karena pengaruh pada saat mensterilkan sebagian larutan menguap serta kesalahan pada waktu memipet ke tiap tabung.



PRAKTIKUM V

Pembuatan Media B A P (Blood Agar Plate)

Ø Judul : Pembuatan Media B A P

Ø Hari/Tanggal : Senin, 12 januari 2008

Ø Kelompok : I

Ø Dasar Teori :

1. Kegunaan Media B A P adalah untuk menumbuhkan bakteri Staphylococcus aureus, Staphylococcus citreus, Staphylococcus albus.

2. Komposisi Media :

· Nutrient substrate 20,0 gr

Sebagai sumber energy / nutrisi bagi bakteri

· Sodium chloride 5,0 gr

Sebagai pengatur kesetimbangan tekanan osmosis/bahan

· Agar 15,0 gr

Sebagai bahan pemadat media

Ø Persiapan Alat dan Bahan

1. Alat :


- Neraca

- Waterbath

- Autoclave

- Cawan Petri

- Pipet tetes

- Erlenmeyer

- Sendok tanduk

- Kertas pH

- Pipet ukur

- Plat steril

- Batang pengaduk

- Kapas


2. Bahan :


- Darah segar

- Reagent B A P

- Aquadest

- NaOH 0,1 N





Ø Cara Kerja :

1. Menyiapkan alat dan bahan

2. Cara penimbangan


Penimbangan reagent dilakukan sesuai dengan kebutuhan/volume yang akan dibuat berpedoman kepada cara pembuatan yang tertera pada botol reagent

Pada botol reagent tertera 40 gram dalam 1 liter sementara yang akan dibuat 200 ml, sehingga bahan yang ditimbang sebanyak 8 gram

3. Mengatur pH aquadest

Untuk menghindari kesalahan pembuatan media khususnya media B A P, salah satunya harus memperhatikan pH aquadest yang digunakan. pH aquadestyang di atur pH nya sesuai dengan volume yang akan kita gunakan.

pH aquadest untuk media B A P yaitu 6,8±0,2, jika pH masih dibawah ketentuan atau cenderung ke asam (<5),>7), maka harus ditambahkan HCL tetes demi tetes hingga mencapai pH yang digunakan

4. Cara melarutkan B A P

Bahan yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml, sisa bahan yang menempel pada cawan yang digunakan menimbang dibilas dengan aquadest sebanyak 3 kali, kemudian tambahkan aquadest dengan pH yang telah di atur sebelumnya sampai pada garis tanda 200 ml lalu di aduk

Karena tidak semua langsung larut maka untuk melarutkannya digunakan waterbath. Waktu pelarutan tidak ditentukan, namun sesekali harus dicek hingga tidak ada lagi butiran zat pada dinding tabung atau larutan.

5. Mensterilkan media

Larutan yang telah larut kemudian disterilkan kedalam autoclave selama 15 menit setelah mencapai 121°C

6. Mendinginkan larutan dan penambahan darah

Setelah sterilisasi selesai, larutan didinginkan dengan cara membasahi/ membilas dinding Erlenmeyer dengan air kran. Setelah suhunya kira-kira 40°C ke dalam larutan ditambahkan darah segar sebanyak 10 cc kemudian di aduk sebentar

7. Menuang kedalam plat

Setelah 15 menit larutan dikeluarkan dar iautoclave, kemudian dituang kedalam plat yang telah disiapkan lebih dahulu. Tiap-tiap plat diisi hingga permukaan plat tertutupi oleh larutan media, tidak boleh terlalu tipis maupun terlalu tebal. Pada saat menuang tutup plat dibuka sedikit saja untuk menghindari terjadinya kontaminasi.

8. Menyimpan media

Plat yang telah diisi tadi disimpan sampai dingin dan padat. Setelah dingin media tersebut dibalik agar uap air yang ada pada tutup plat tidak jatuh kembali ke permukaan agar. Selanjutnya dibungkus lalu dimasukkan ke dalam lemari es.

Ø Pembahasan

· Darah yang digunakan untuk media B A P sebaiknya darah merah domba (DMD), namun sulit untuk mendapatkannya sehingga digunakan darah vena manusia.

MUTU INTERNAL

Pemantapan mutu intralaboratorium dilakukan oleh laboratorium klinik untuk mengendalikan mutu analisisnya setiap hari. Pada dasarnya pemantapan mutu intralaboratorium dapat dibagi dalam dua bentuk, yaitu pemantapan presisi dan pemantapan akurasi.

Pemantapan presisi adalah untuk mengenali kemungkinan adanya penyimpangan akibat kesalahan acak yang terjadi dalam suatu proses analisis sampel pasien. Kesalahan acak menyebabkan presisi hasil pemeriksaan menjadi kurang baik. Kesalahan acak dapat terjadi karena kepekaan suhu, arus/tegangan listrik, waktu inkubasi, proses pemerikasaan, cara memipet. Kesalahan acak tidak dapat dihilangkan, hanya dapat dikurangi sampai batas tertentu dengan cara melakukan pemeriksaan dengan teliti, menggunakan alat dan reagen yang lebih baik serta prosedur pemeriksaan yang benar. Pelaksanaannya pada setiap seri pemeriksaan dengan mengikut sertakan suatu bahan control yang sering disebut sebagai bahan kontrol presisi. Setelah didapatkan sekitar 20 nilai hasil bahan kontrol dari minimal 20 seri pemeriksaan (atau 20 hari), maka nilai-nilai tersebut dievaluasi secara statistik. Dari keduapuluh nilai tersebut dihitung nilai rata-rata dan simpang bakunya serta batas-batas 2 SB dan 3 SB. Hasil hitungan tersebut digambarkan pada suatu kartu control dan nilai-nilai setiap hasil analisis bahan-kontrol dicantumkan pada kartu-kontrol tersebut. Apabila nilai-nilai tersebut memenuhi kriteria kontrol tertentu, maka hasil analisis sampel pasien dianggap terkontrol.

Pemantapan akurasi dilakukan untuk mengenali kemungkinan adanya penyimpangan akibat kesalahan sistematik dalam proses analisis sampel pasien. Kesalahan sistematik menyebabjan akurasi hasil pemeriksaan kurang baik. Kesalan sistematik biasanya disebabkan oleh metode pemeriksaan yang dipakai, pipet yang kurang baik akurasinya, reagen yang rusak atau salah cara melarutkannya, panjang gelombang yang dipakai, kurva yang tidak linear. Bahan kontrol yang digunakan disebut bahan control akurasi yang kadar setiap komponennya diketahui atau dinyatakan sebagai nilai rujukan. Apabila nilai hasil analisis bahan control yang diperiksa terletak didalam daerah control tertentu, maka dapat dianggap bahwa hasil analisis sampel pasien cukup tepat dan terandalkan (Widjaja A,dkk, 1994)

CHOLESTEROL

CHOLESTEROL

Tinjauan Umum Tentang Lipid

Lipid adalah salah satu kelompok senyawa yang terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Sifat umum lipid adalah tidak dapat larut dalam air tetapi larut dalam satu atau lebih zat pelarut organik. Di dalam tubuh lipid berfungsi sebagai sumber energi yang efisien baik secara langsung maupun potensial (Poejadi A, 1997).

Di dalam darah lipid terdiri dari kolesterol, trigliserida, fosfolipid dan asam lemak bebas yang berasal dari makanan dan disintesis lemak endogen. Lipid tidak larut dalam lemak oleh sebab itu harus terikat pada protein (dalam bentuk lipoprotein) agar dapat diangkut dalam peredaran darah (Hardjoeno H, 2003).

Ukuran lipoprotein berbeda-beda. Yang lebih kecil disebut lipoprotein dengan daya larut rendah LDL (Low Density Lipoprotein) atau lipoprotein dengan daya larut sangat rendah VLDL (Very Low Density Lipoprotein). Molekul ini mengangkut lemak dari hati kebagian tubuh lain. Terlalu banyak LDL atau VLDL dapat menyebabkan lemak menumpuk di dinding pembuluh nadi. Penyempitan ini dapat menyebabkan pengiriman oksigen ke otot jantung berkurang, dengan akibat serangan jantung.


Lipoprotein yang lebih besar disebut lipoprotein dengan daya larut tinggi (High Density Lipoprotein). HDL dianggap sebagai lipoprotein yang ‘baik’ karena mengeluarkan lemak dari pembuluh darah dan mengembalikannya ke hati untuk diproses lagi. Kadar HDL yang tinggi melindungi kita dari penyakit jantung (http://www.spiritia.or.id/ 26/05/2007).

Tinjauan Umum Tentang Kolesterol

Kolesterol adalah suatu zat esensial, yakni sejenis zat yang terpenting di dalam tubuh yang berupa lipid, yaitu zat lemak yang berwujud seperti lilin, dan tidak larut di dalam air. Seperti kita ketahui, lemak merupakan salah satu zat gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh kita di samping zat gizi lain seperti karbohidrat, protein, vitamin dan mineral (Pranawati F, 2002).

Kolesterol di dalam tubuh dapat bersifat endogen yaitu kolesterol yang disintesis oleh tubuh dan eksogen yaitu kolesterol yang berasal dari makanan yang dimakan. Yang bersifat endogen dipengaruhi oleh berbagai faktor di dalam proses sintesisnya, yaitu asam lemak jenuh, asam lemak tidak jenuh, lipoprotein, dan energi yang dipergunakan serta konsumsi kolesterol sendiri. Yang bersifat eksogen ialah dengan mengkonsumsi sejumlah kolesterol di dalam bahan pangan (Sitepoe M, 1993).

Pengumpulan kolesterol oleh badan berhubungan dengan umur dan indeks berat badan. Karena semakin lama , terdapat pengumpulan buruk kolesterol di dalam jaringan badan, yang mencakup dinding arteri. Tubuh dapat membersihkan kolesterol melalui hati, tempat kolesterol dapat diekskresikan ke dalam empedu dan feses. Kolesterol bisa diekresikan dalam empedu secara utuh atau mula–mula bisa diubah menjadi asam empedu. Mekanisme yang belum ditetapkan dengan baik yang menjelaskan cara kolesterol dari jaringan perifer (termasuk dinding arteri), diangkut ke hati untuk pembuangan. HDL berperan dalam membuang kolesterol dari jaringan dan meningkatkan pengangkutan kolesterol ke hati (Kaplan NM, 1991).

Kolesterol berfungsi untuk membentuk hormon, asam empedu, membran (kulit sel) dan lapisan pelindung disekeliling saraf. Di samping itu, kolesterol berfungsi untuk menetralisasi atau membersihkan ‘racun-racun’ yang ada di dalam tubuh, khususnya di dalam pembuluh-pembuluh darah (Pranawati, F, 2002).

Oleh karena tubuh memang membutuhkan kolesterol maka secara terus-menerus dibentuk atau disintesis di dalam hati (liver). Bahkan, sekitar 70% kolesterol dalam darah merupakan hasil sintesis dalam liver, sedangkan sisanya merupakan sumbangan asupan makanan. Asupan makanan dengan kandungan kolesterol tinggi yang berlangsung secara rutin berakibat pada peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Kelebihan kolesterol tersebut bisa bereaksi dengan zat-zat lain dan mengendap di dinding arteri. Akibatnya, terjadi penyempitan dan pengerasan pembuluh arteri yang disebut atherosklerosis.

Sebagian besar penyakit jantung koroner diawali dengan pembentukan atherosklerosis (terkadang disebut sebagai proses pengapuran) pada arteri. Kelebihan kadar kolesterol khususnya LDL kolesterol dalam jangka panjang akan menyebabkan akumulasi yang bertambah banyak dari atherosklerosis yang pada level tertentu akan menjadi pemicu terjadinya penyakit jantung koroner (Tisnadjaja D, 2006).

Ada dua jenis dasar lipoprotein, yaitu lipoprotein berdensitas tinggi (HDL), yang melancarkan kolesterol ke jalur metabolisme dan ekskresi, kemudian adapula lipoprotein berdensitas rendah, yang mengendapkan sisa kolesterol pada dinding-dinding pembuluh nadi (Panati C, 1989).

2.2.1 HDL (High Density Lipoprotein)

HDL merupakan salah satu dari tiga komponen lipoprotein, kombinasi lemak dan protein, mengandung kadar protein tinggi, sedikit trigliserida dan fosfolipid, mempunyai sifat umum protein dan terdapat pada plasma darah, disebut juga lemak baik yang membantu mengurangi penimbunan plak pada pembuluh arteri. Endapan atherosklerotik yang mengandung kolesterol dan lemak bersifat tidak stabil dan mudah pecah. Pada saat plak pecah, akan terbentuk luka terbuka pada dinding arteri. Luka terbuka dapat menyebabkan darah dan protein menutup bagian terbuka dan membentuk gumpalan darah yang disebut thrombus. Gumpalan tersebut dapat membesar dan menutup lubang arteri dan menghentikan aliran darah ke jantung atau otak. Bila pembuluh darah arteri tersumbat ke jantung maka dapat menyebabkan terjadinya penyakit jantung koroner (Sutedjo AY, 2006).

HDL-kolesterol sering disebut sebagai kolesterol baik karena dalam operasinya HDL membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi atau lebih berat dan mampu membawa kelebihan kolesterol jahat di pembuluh arteri untuk diproses dan dibuang. HDL mencegah kolesterol mengendap di arteri dan mencegah terjadinya atherosklerosis (Tisnadjaja D, 2006).

Peranan HDL atau Lipoprotein berkepadatan tinggi, yang berperan sebagai pembersih lemak di dalam aliran darah, dan merupakan kunci bagi pengangkutan kolesterol LDL itu, tampaknya memang sangat berguna untuk membantu mencegah timbulnya penyakit jantung. Dewasa ini telah diketahui bahwa seorang penderita dengan kadar kolesterol darah yang tinggi, tidak akan jatuh lagi ke dalam risiko yang dapat membahayakan keselamatan hidupnya, terlebih bila ia cukup memperoleh HDL (Pranawati F, 2002).

LDL (Low Density Lipoprotein)

LDL membawa sekitar setengah sampai dua pertiga kolesterol di dalam darah. Hidrolisis trigliserida pada VLDL dan ILD (Intermediate Density Lipoprotein) menghasilkan perubahan partikel lipoprotein lebih besar ke partikel LDL yang lebih kecil, intinya mengandung ester kolesterol.

Lipoprotein berdensitas rendah dapat dibersihkan dari sirkulasi dengan satu dari beberapa jalur. Satu jalur melibatkan interaksi lipoprotein dengan reseptor pada permukaan sel. Reseptor LDL berada pada berbagai permukaan sel pada manusia dan binatang, termasuk sel endotel, fibroblast dan sel otot polos dinding arteri. Fibroblast, sel endotel dan sel otot polos yang mengandung reseptor LDL tidak mengumpulkan kolesterol atau ester kolesterol dalam biakan jaringan; sehingga lipid berkumpul di dalam dinding arteri (Kaplan NM, 1991).

LDL adalah lipoprotein pada plasma yang mengandung sedikit trigliserida, fosfolipid sedang, protein sedang dan kolesterol tinggi (Sutedjo AY, 2006).

LDL-kolesterol yang mengangkut paling banyak kolesterol di dalam darah dan cenderung mengendap di dalam arteri disebut sebagai kolesterol jahat. LDL-kolesterol merupakan penyebab langsung terjadinya atherosklerosis. LDL merupakan faktor yang paling berpengaruh pada timbulnya penyakit jantung koroner (PJK), serangan jantung, dan stroke (Tisnadjaja D, 2006).

Tinjauan Umum Tentang pemeriksaan HDL (High Density Lipoprotein)

Prinsip kerja HDL metode langsung

Kilomikron, VLDL dan LDL dihancurkan secara khusus melalui reaksi enzimatik. Kolesterol yang tertinggal dari fraksi HDL diukur melalui reaksi enzimatik khusus oleh adanya surfactant spesifik HDL. Kombinasi ini membuat lebih spesifik untuk HDL dari metode lain.

Cara kerja HDL metode langsung (manual)

Disiapkan 3 tabung reaksi untuk blanko reagen (RB), sampel,dan standar. Kemudian pada tabung pertama dipipet 10 µl aquadest dan 750 µl reagen 1 (R1) campur dengan hati-hati, inkubasi 5 menit pada suhu 37˚C. setelah itu tambahkan dengan reagen 2 (R2) sebanyak 250 µl, campur dengan hati-hati kemudian inkubasi selama 5 menit. Selanjutnya pada tabung kedua dipipet standar sebanyak 10 µl dan reagen 1 (R1) sebanyak 750 µl kemudian campur dengan hati-hati, inkubasi selama 5 menit pada suhu 37˚C. Setelah diinkubasi tambahkan reagen 2 (R2) sebanyak 250 µl, campur dengan hati-hati kemudian inkubasi selama 5 menit pada suhu 37˚C. dan yang terakhir pada tabung ketiga, dipipet sampel sebanyak 10 µl dan reagen 1 (R1) sebanyak 750 µl kemudian dicampur dengan hati-hati, diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37˚C. Setelah diinkubasi ditambahkan reagen 2 (R2) sebanyak 250 µl, campur dengan hati-hati kemudian diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37˚C. Setelah ketiga tabung diinkubasi selama 5 menit, dibaca blanko, standar dan sampel berurutan pada panjang gelombang 578 nm.

Prinsip cOBAS c111 (Otomatik)
cOBAS c111 sebagai alat full otomatik untuk pemeriksaan kimia klinik. Karena pada alat ini kita hanya memasukkan reagen dan sampel,seterusnya alat akan bekerja sendiri mulai dari pemipetan sampai hasil pengukuran. Alat ini menggunakan system komputer dimana alat ini akan bekerja sesuai dengan apa yang kita perintahkan.

Ketika akan melakukan pengukuran suatu parameter,maka alat ini hanya bekerja untuk parameter itu. Proses pemipetan sampel dan reagen telah terprogram didalam memori untuk setiap pengukuran pararneter tertentu sama halnya dengan alat semi otomatik, alat ini juga mempunyai mekanisme perubahan sinar dari polikromatik menjadi monokromatik sehingga konsentrasi suatu zat yang diukur dapat ditentukan seperti pada alat semi otomatik.

Prinsip kerja HDL metode tidak langsung

Dengan pemberian phosphotungstat acid dan ion magnesium kedalam sampel maka kilomikron, VLDL dan LDL mengendap (presipitasi).

Serum + HDL separating reagent → sentrifuge → HDL fraksi (supernatan) + kilomikron, VLDL, LDL, fraksi (presipitasi) Setelah dipusingkan dalam supernatan hanya terdapat HDL yang kadar kolesterolnya ditentukan dengan metode kalorimetrik enzimatik.

Cara kerja HDL metode tidak langsung

Disiapkan 3 tabung reaksi untuk presipitasi, blanko dan sampel, kemudian dipipet 250 µl sampel lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan reagen presipitasi HDL sebanyak 500 µl, setelah itu dicampur dan dibiarkan selama 10 menit pada suhu 37˚C lalu disentrifus dengan kecepatan 10000 rpm selama 2 menit. Kemudian diambil supernatan sebanyak 100 µl lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang lain kemudian ditambahkan reagen kolesterol sebanyak 1000 µl kemudian campur lalu diinkubasi pada suhu 37˚C selama 10 menit lalu standar dan sampel terhadap blanko reagen dibaca pada photometer dalam waktu 6 menit dengan panjang gelombang 546 nm.

Selasa, 17 Maret 2009

Nabi Muhammad SAW, Al Qur’an Dan Sistem Pengetahuan Manusia

Kodefikasi Al Qur’an dan Sistem Ilmu Pengetahuan

Selama berabad-abad, para peneliti sejarah al-Qur’an selalu menemui ketakjuban dengan komposisi dan kodefikasinya. Meskipun al-Qur’an diwahyukan dan dikitabkan sejak berabad-abad yang lalu, jauh sebelum sains modern diperbarui setelah tidur panjangnya, siapapun yang mengkaji al-Qur’an dengan teliti dan jujur akan menemui suatu fakta yang menarik bahwa komposisi dan kodefikasinya adalah suatu komposisi dan kodefikasi yang meliputi berbagai ilmu pengetahuan baik yang pasti maupun yang abstrak.

Yang pasti, bersandar pada komposisi dan kodefikasi numerik yang melibatkan penomoran surat, ayat , jumlah huruf atau nilai numerik susunan kata dan hurufnya (al-Jumal bahasa Arab). Pengetahuan yang pasti mengandung suatu kaidah bagaimana logika manusia harus disusun dengan suatu konsep yang generik dengan algoritma yang kalau ditinjau kembali dari sejarah sains telah dikonsepkan secara aritmatis oleh Phyttagoras (600-500 SM) dan akan merujuk pada algoritma Euclids seorang filsuf dan ilmuwan era Yunani Kuno (sekitar 350 SM).

Yang tidak pasti menjadi suatu syair yang sangat indah dengan corak yang khas dimana faktor pengajaran bagi manusia sangat dominan baik melalui kisah, ungkapan ruhaniah yang berkaitan langsung dengan kondisi kejiwaan manusia, sejarah umat, maupun konsep recursive atau syair yang berulang dengan corak dan konteks yang berbeda yang mampu menembus struktur psikis dan mengsuik kondisi jiwa manusia yang terdalam untuk sejenak merenung dan pada tingkat pengaruh yang tinggi akan mengubah akhlak dan perilaku menuju kemuliaan manusia sebagai makhluk berakal pikiran dan mempunyai instrumen ruhaniah atau hati yang dapat menjadi halus dan lembut sebagai radar Pesan-pesan Ilahi.

Sintesa rasional dan ruhaniah ini menunjukkan intelektualitas dan kualitas ruhaniah dari sang penerima wahyu itu sendiri yang mampu memaknai semua cerapan fonemenologis Pesan-pesan Ilahi menjadi Wahyu Yang Diwahyukan dari Tuhannya. Wahyu yang Diwahyukan adalah pengetahuan teringgi sebagai firman Tuhan yang muncul dari kemandirian yang tampil dari kondisi psikogis-ruhaniah Nabi Muhammad SAW sendiri yang berserah diri di hadapan Tuhannya bahwa apa yang diterimanya semata-mata atas idzin dan kehendak Tuhannya, dan bukan pengetahuanh miliknya. Pesan itu akhirnya aktual dan menjadi Wahyu sebagai penjelasan bahwa apa yang diungkapkan oleh akal pikiran dan hati Nabi Muhammad SAW sebagai penerima wahyu adalah suatu pengetahuan azali dari sumber yang sama dengan Kitab-kitab Agama lainnya yang benar dan ilmu rasional yang benar yang telah mulai direnungkan bangsa Ionia sejak era Thales (700-600 SM) yang sebelumnya telah berserakan di dunia dengan ungkapan buah Tiin dan Buah Zaitun yang diberkahi, yang menjadi masak di suatu tempat yang nyaris terkucil yaitu Mekkah, dan pada akhirnya menjadi pedoman serta wacana fundamental umat manusia ketika semua ilmu pengetahuan itu dimurnikan kembali menjadi Pengetahuan Tauhid dan kemudian terdiferensasikan lebih terperinci menjadi berbagai ilmu pengetahuan dengan landasan aksioma mutlak benar yaitu Bilangan 1 sebagai simbolisme Allah, al-Haqq, Tuhan Yang Esa; atau landasan masa kini sebagai sains dan teknologi dijital.

Yang Satu Adalah Aksioma Mutlak Benar

Bagaimana sebenarnya sistem ilmu pengetahuan manusia saat ini dan kaitannya dengan komposisi atau kodefikasi al-Qur’an? Sistem pengetahuan yang dipahami oleh manusia sebagai makhluk berakal pikiran adalah sistem yang menjelaskan sistem kehidupan yang berubah dan tertutup yang sebenarnya menyatakan dimensi dan konfigurasi aktual dari semua makhluk yang ada didalamnya. Selain itu, sistem pengetahuan manusia dalam basis geometri, abjad/alfabet, desimal sebenarnya adalah wahyu-wahyu elementer sebagai fondasi wahyu yang diaktualkan atau Wahyu Yang Diwahyukan melalui suatu mediator antara dengan maupun tanpa suatu proses. Ciri khas yang muncul kemudian dinyatakan sebagai suatu prinsip dasar penciptaan makhluk, baik yang langsung melalui tangan-tangan Ilahi maupun kita sebutkan sebagai makhluk buatan manusia, sehingga dalam konsep dasar ilmu pengetahuan di bidang geometri maupun bilangan muncul batasan-batasan (kendala), sistem berpasangan, misalnya pasangan bilangan prima dan genap dengan Prima Utama atau Angka Satu sebagai Sebab Tunggal dan Unik.

Bilangan Satu adalah aksioma mutlak benar yang menjadi dasar geometri, bilangan dan susunan huruf. Aksioma ini memang wajib mejadi mutlak benar sebab kalau tidak sistem ilmu pengetahuan manusia bisa dikatakan runtuh sama sekali dan tidak mewakili realitas yang sebenarnya (artinya sains atau semua ungkapan simboliknya menjadi sekedar permainan atau anagram bilangan dan huruf mirip permainan scramble saja).

Kalau kita berbicara dengan pemahaman matematis, maka bilangan Satu secara numerik menjadi asumsi yang wajib dianut semua manusia yang akal pikirannya menyepakati sistem bilangan dan logikanya, abjad, alfabet, atau jenis huruf lainnya. Bilangan satu dikatakan sebagai representasi sumber asal dari semua pengetahuan yang tercerap dan mendeskripsikan semua makhluk yang ada didalamnya. Jadi, semua makhluk asalnya dari penguraian yang satu yang kemudian didiferensiasikan menjadi potongan-potogan kecil atau diskrit sebagai entitas yang mungkin baru sama sekali setelah disusun ulang dan akhirnya menjadi makhluk yang disebut dengan “penamaan” baru. Jadi, apa yang kita sebut sebagai benda-benda aslinya memang suatu entitas makhluk yang kemudian disepakati oleh manusia dengan “bilangan , abjad, maupun alfabet” untuk diidentifikasikan. Bentuk aslinya mungkin akan sama sekali lain jika ada misalnya makhluk asing yang bukan berasal dari sistem alam semesta kita.

Dalam arti yang spesifik makhluk itu berada di luar spektrum akal pikiran kita karena kita pun tak mengenali wujud dan bentuknya. Sebagai contoh yang gamblang, apa yang akan Anda lihat kalau retina mata kita mampu menerima frekuensi di luar spektrum cahaya tampak? Saya yakin, Anda tak akan melihat bentuk kebendaan namun bentuk-bentuk yang energetis karena retiona mata kita tidak melihat batas-batas yang jelas. Jadi, ekspresi lahir dan batin manusia di alam fisikal dalam spektrum cahaya nampak menjadi sangat terbatas dan sama sekali tidak bebas. Kebebasan adalah ilusi dan delusi mental kita yang mirip dengan ilusi dan delusi tokoh antagonis yang dikenal sebagai Iblis yang mengira dapat menjadi kekal.

Orang-orang di Timur Tengah dan sekitarnya kemudian menyepakati simbolisme angka satu itu sebagai Sebab Utama dan kemudian dikonversikan menjadi lafaz yang diungkapkan dengan kata-kata, namanya menjadi “Allah”, “YHVH”, ataupun sebutan lainnya yang menunjukkan suatu ungkapan dengan kualitas ruhani dan intelektual tertinggi untuk menyatakan suatu ungkapan simbolis bahwa angka satu adalah simbolisme dari “Allah”, sebagai Tuhan Yang Maha Esa. Ketika saya gunakan susuan kalimat “Tuhan Yang Maha Esa” sebenarnya kalimat tersebut adalah penegasan dimana bahasa Sanksekerta telah diserap dan digunakan oleh lidah orang melayu Indonesia untuk menegaskan ungkapan simbolis “Allah” sebagai Tuhan Yang Satu, Tunggal, dan Unik yang penampilannya nama-nama, sifat-sifat dan perbuatannya telah terurai dengan berbagai penyebutan.

Selain ungkapan bilangan 1 sebagai Prima Kausa atau sebagai simbolisme tentang Tuhan Yang Esa, bilangan-bilangan juga mengungkapkan aspek-aspek penting manusia ketika menjelaskan cerapan fenomenologis yang diterima inderawi fisikal dan ruhaninya karena adanya cahaya matahari sebagai pusat dari sistem kehidupannya yang terbatas di tatasurya. Sebagai contoh bilangan prima 2,3,5, dan 7 adalah 4 bilangan yang menyatakan banyaknya dimensi yang dikenali di alam tersebut yaitu 3 dimensi menyatakan ruang dan 1 dimensi waktu.

Angka Satu adalah dimensi ke-5 yang sejatinya muncul ketika makhluk yang tinggal didalamnya menggunakan instrumen kesadaran yang lebih bersifat psikologis-ruhaniah untuk memahami eksistensi-Nya yaitu citarasa berkesadarannya sebagai makhluk yang serba terbatas dan tidak bisa mandiri. 4 bilangan prima tersebut menjadi sebab munculnya pasangan yang menutup keunikan bilangan prima tersebut sehingga bilangan prima merupakan pasangan bilangan lainnya yang muncul dari penambahan satu persatu atau dengan bantuan Angka Satu. Jadi, bilangan genap 4,6,8,9 sejatinya adalah pasangan yang melengkapi bilangan prima. Bilangan 2 dan 3 dalam keadaan unifikasi adalah 23, bilangan tersebut menjadi esensi makhluk yang diciptakan dan hidup didalam sistem berpasangan dengan kesempurnaan yang dimaujudkan oleh peniadaan eksistensi dirinya dengan bantuan Prima Kausa yaitu “1 dan 0” sebagai 10 dan 10 sebagai biner yaitu angka 2.

Akar 2 Menjadi 2 Sebagai Pasangan kromosom

Sehingga sejatinya semua realitas yang dicerap inderawi manusia di tatasurya (saja) dibangkitkan oleh ungkitan angka 2 yang berasal dari akar 2 dengan penguraian atau konsep saling berpasangan yang sebenarnya menunjukkan keadaan yang real dari semua eksistensi yang ada di alam tersebut. Peniadaan dirinya menyebabkan 10 menjadi “01” sebagai keyakinan yang tumbuh mandiri setelah angka 10 dijelajahi menjadi suatu bayangan kesempurnaan yang wujud dari Angka 1 dengan “peniadaan”. Dalam arti khusus maka 01 menjadi totalitas kepasrahan dan pengakuan bahwa esensi bilangan selain 1 sebenarnya tidak ada jika akar 2 tidak menyingkapkan dirinya sebagai 2, sebagai suatu sistem berpasangan. Selain itu makna 10 juga dimaksudkan sebagai 23 dalam keadaan berpasangan yaitu 2x23=46 dengan pemisahan dimana 4+6 akhirnya menjadi 10.

Angka 23 dalam keadaan berpasangan menjadi 46 adalah kode kromosom manusia dalam keadaan berpasangan yaitu 23 kromosom Bapak dan 23 kromosom Ibu. Dalam keadaan berpasangan maka eksistensi lainnya muncul dan berkembang biak. Dalam banyak segi bilangan prima dan genap yaitu 23 dan 46 membangun suatu sistem penciptaan sebagai 69 dan akhirnya sistem pengetahuan yaitu dari bilangan dasar 1,2,3, 7 dan 10 yang dapat diringkas hanya menjadi 2 yaitu 1 dan 0 atau 0 dan 1 sebagai suatu realitas bahwa dunia fisikal yang tercerap oleh 23 adalah maya dan sekedar mimpi 1001 malam bagi semua makhluk yang ada di dalamnya.

Bilangan yang muncul sejatinya hanya mencakup 2,3,5,dan 7 sebagai bilangan prima utama dimana angka 1 menjadi sebab absolut yang mesti ada. Jika tidak semua eksistensi di dalam alam yang diciptakan dengan kekuatan 69 oleh Angka 1 sebagai Prima Kausa dikatakan sama sekali tidak ada atau maya adanya. Dari jumlahan 2,3,5,7 menjadi 2+3+5+7=17, maka 17 adalah sebuah ketentuan untuk memunculkan eksistensi yang berpasangan. Dengan demikian makhluk yang wujud diantara bilangan prima utama yaitu 4 dan 6 sebenarnya adalah 46 sebagai hasil dari 23 dalam keadaan berpasangan, atau dengan suatu ketentuan yang pasti terjadi. Jika tidak, atau jika ketentuan dilanggar maka semuanya akan runtuh dan ambruk.

Dari wujudnya 46 sebagai makhluk yang berbentuk 3 dimensi, 1 dimensi yang muncul adalah bagian dari kesadaran dari sistem kealaman yang diciptakan dengan 7 tatanan dalam konfigurasi 1 dan 6 atau 16. Konfigurasi itu dapat dimaknai sebagai 6 alam yang ditopang oleh Yang Satu, atau 1 alam yang nyata mampu mencerap dengan kesadaran ditopang oleh 6 lainnya dimana 1 diantaranya adalah Prima Kausa. Yang tampil dan dapat dicitrakan oleh kodefikasi 23 adalah 4 alam dimensi sebagai realitas yang tercitarasakan dengan pengetahuan desimal 1,2,3,4,5,6,7,8,9 dan 10. Maka 234 adalah limpahan maghfirah dari angka 1 dan jumlah akumulatif dari bilangan desimal adalah 55 sebagai aktualnya pasangan yang melimpahkan rahmat dan kasih sayang dari kekuasaan yang wujud dari sistem berpasangan sebagai sistem Ba yaitu kekuasaan Ar-Rahmaan. Oleh karena itu angka 4 dikatakan sebagai angka kesempurnaan yang menampilkan sifat-sifat dari angka 1; sedangkan angka 6 adalah nama-nama dan sifat-sifat yang sejatinya muncul dari angka 1 dikali 2 dikali 3 (1x2x3) atau 3 atribut dalam keadaan berpasangan yang muncul untuk mengenali angka 1 sebagai sebab utama yaitu Ar-Rahmaaan, ar-Rahiim, al-Hayyu-al-Qayyum, al-Iradah-al-Qudrah dan angka 1 adalah Allah sebagai Realitas Absolut Yang Maha Esa sebagai Prima Kausa atau Sebab Utama.

Kesadaran Atas Waktu

Realitas dimensi ke-4 sebagai waktu akan mempunyai makna yang nyata jika 23 sebagai 46 (kromosom menjadi manusia) menyadari bahwa eksistensinya nyata karena ia berkesadaran dan berakal pikiran yang mampu menyerap sistem pengetahuan yang diperkenalkan oleh Penciptanya yang sejatinya muncul di alam inderawi sebagai bentuk jasad dan ruhaniah dirinya (lahir dan batin). Karena itu manusia yang tidak menyadari eksistensinya tidak akan mampu menyingkap dimensi waktu yang sebenarnya, yang sejatinya hanya sekedar denyutan dari Kehendak Penciptanya.

Artinya, dirinya sebagai makhluk yang berjasad dan berjiwa sejatinya akan menyingkap eksistensi dirinya yang maya jika ia menggunakan dimensi waktu dengan benar yaitu waktu sebagai al-Ashr bukan sekedar dimensi waktu yang materialistik semata. Ketika kesadaran atas al-Ashr muncul, maka ia akan memahami esensi ruhaniahnya selalu berkaitan dengan munculnya kesadaran atas waktu. Ketika ia bangun dari tidurnya, dan ia mencerap dimensi ruang waktunya, maka ia merasakan kehidupannya. Oleh karena itu, kesadarannya sejatinya dimensi ke-5 yang menghubungkan dirinya dengan Tuhannya. Tanpa pemahaman demikian maka ia akan terpenjara dalam lingkaran setan materialistik dirinya sebagai makhlukd engan kodefikasi 2x23=46 dalam alam 4 dimensi yang materialiastik. Padahal alam 4 dimensi tidak bersifat kekal namun maujud karena adanya ukuran yang tertentu yaitu al-Ashr sebagai kesadarannya yang memiliki kepastian bahwa suatu saat ia tak lagi dapat mencerap alam 4 dimensinya. Dalam hal ini 3 dimensi ruang dan 1 dimesi waktu adalah ukuran-ukuran yang membatasi eksistensinya di alam 4 dimensi. Jadi ia akan mati, musnah dan binasa.

Oleh karena itu kebebasan dan kekekalan bagi makhluk berkode 46 adalah ilusi semata, karena kekekalan adalah milik angka 1 sebagai Prima kausa. Makhluk dengan kodefikasi 23 (al-Mukminun) yang menjadi 46 (kode kromosom manusia dalam keadaan berpasangan), dan akhirnya menjadi 76 (al-Insaan) ketika dimensi fisikalnya terasakan, dan menjadi 114 (an-Naas) ketika sistem desimalnya dibantu dengan 28 sistem alfabet yang menyebabkan dirinya memahami makna-makna, akan terjebak dalam lingkaran kedunguan Ablasa jika tidak menyadari kefanaan dirinya. Ia akan terjebak dalam penjara, akan tersiksa, termusnahkan, dan dalam keadaan kebingungan jika ia sebagai 114 (an-naas) tidak menyingkap realitas dirinya dan alam 4 dimensi dimana ia tinggal didalamnya, maka ia akan menjdi sehina-hinanya makhluk yang gagal untuk menyatakan kesempurnaan dirinya.

Komposisi dan Kodefikasi Al Qur’an

Ketika ia berhasil menerobos pengertian 4 dimensinya, sejatinya ia akan membuka tabir dirinya sebagai kesempurnaan angka 4 dengan huruf Ba (dari Basmalah) yang menyingkapkannya yaitu menjadi 2x4 sebagai 8 dan sebagai unifikasi 2 dan 4 atau 24 yaitu bagaimana alam 4 dimensinya berputar secara periodik dan bagaimana eksistensinya tak lebih dari medium penampilan yaitu sebagai cermin dari atribut yang ditampilkan oleh angka 1 yaitu Asma dan Sifat-Nya. Ketika cermin itu tampil, yang tampil sejatinya adalah 8 sebagai cermin dan 24 sebagai satu siklus yang mendefinisikan dirinya sebagai makhluk yang eksistensinya ditentukan oleh probabilitas kehendak Angka satu sebagai suatu kondisi "hidup dan mati".

Angka 24 bagi 114 sejatinya adalah ukuran sebagai satuan dimana ia mencerap citarasa dirinya sebagai makhluk yang dihidupkan dan dimatikan. 24 kemudian menjadi ketentuan dari tempat dimana 114 tinggal didalamnya yaitu periode sehari semalam selama 24 jam. Jadi 1 siklus selama 24 jam itu kemudian menjadi 1 dan 8 sebagai 18 yaitu konstruksi yang mulai eksis dan tegak berdiri sebagai makhluk hidup dan 1+8 sebagai 9 atau sebagai batas akhir dimana dirinya harus tertunduk berserah diri di hadapan Penciptanya dengan ampunan dan taubat. Pengertian 9 kemudian menjadi nomor pertobatan sebagai aktualisasi dari 234 maghfirah sebelum dirinya menyingkap bahwa setelah sembilan sejatinya ia kembali ke angka 1.

Secara lahiriah, proses kembali kepada Yang Esa atau Yang Satu dipahami sebagai 9+1=10 atau 9 dan 1 sebagai 91 yaitu wujudnya cahaya hakiki dimana semua eksistensi kemakhlukan hanya tegak karena adanya Celupan Ilahiyah (Shibghtalaahi) dari Prima Kausa sebagai Allah. Itulah yang wujud ketika dirinya berserah diri sebagai makhluk yang lemah yang sejatinya sekedar cermin, sekedar media untuk menyatakan Kebesaran, Keagunngan, dan Kamahaindahan Sang Pencipta, Dialah Allah sebagai Prima Kausa.

Dari uraian demikian, maka realitas yang tampil dengan dukungan sistem desimal dan alfabet/abjad, yaitu bilangan 23 sebagai al-Mukminun maupun jumlah kromosom manusia (2x23=46) dalam keadaan awalnya adalah realitas yang muncul dengan kesempurnaan angka 10 dan dengan kesadarannya yang muncul sebagai makhluk yang tidak mampu tegak berdiri atau lemah, yaitu mandirinya pengakuan dan keyakinan yang menjadi keimanan dengan tauhid “Tiada tuhan selain Allah”, Dan Dia Maha Esa, sebagai penyaksian awal dan akhir eksistensi yang melingkar, menutup ke dirinya sendiri sebagai suatu “tanda” untuk melihat kepada realitas dari “keajaiban” dirinya sebagai manusia yang beriman, yaitu sebagik-baiknya makhluk karena berakal pikiran dan berjiwa yang murni dan lembut. Formulasinya pun menjadi gambaran yang nyata bahwa selain angka 1 sejatinya adalah maya, dan cerapan dari semua pengetahuan yang tampil bagi al-Mukminun, baik sebagai ladang amal, pembelajaran, maupun ladang peribadahan adalah.

1x(1001x2x3+10x23)=6236

Yang Esa = 6236/(1001x2x3+10x23)

Yaitu sebagai al-Qur’an yang disusun dan dikodefikasikan dengan basis Pengetahuan Tuhan yang tampil dan dipahami oleh al-Mukminun yaitu sistem desimal, biner dan 28 huruf abjad. Oleh karena itu susunan nomor surat, nomor ayat, nama surat, dan setiap huruf maupun kata yang mengawali setiap komposisi surat dan ayat tidak akan dapat berubah. Karena sifat ketertutupan dan keterbatasan pengetahuan manusia itu sendiri yang sejatinya merujuk kepada “keajaiban” wujudnya yang fisikal maupun yang non fisikal, yang lahiriah maupun yang batiniah. Merubah satu huruf dalam suatu komposisi nomor surat dan ayat tertentu, akan menyebabkan keruntuhan sistem pengetahuan manusia yang disepakati saat ini berupa bilangan desimal yang sejatinya merujuk kepada sepasang 5 jari tangan manusia dan meruntuhkan sistem abjad/alfabet dari Alif sampai Ya, dari A sampai Z, dari Alfa sampai Omega.

Dengan komposisi yang kaku namun liat, tertutup namun terbuka, maka al-Qur’an adalah Kitab Tentang Segala Sesuatu yang berbicara dalam banyak hal tentang pengetahuan yang terpahami manusia sejak zaman dahulu, masa kini, maupun masa depan. Ia menjadi kitab rujukan semua manusia dengan berbagai potensi kecerdasan, kekayaan, kemiskinan, kesempurnaaan, kecacatan, atau apapun kondisi manusia saat itu. Keajaiban kodefikasi al-Qur’an adalah keajaiban “manusia” yang pengetahuannya saat ini bersandar pada sistem pengetahuan tertutup yang merujuk kepada dirinya sendiri sebagai cermin yaitu sistem pengetahuan berbasis bilangan desimal, biner, dan 28 huruf alfabet yang sejatinya semua itu berasal dari Allah, sebagai Ar-Rahmaan, sebagai Rabbul Aalamin, dan Nama-nama Agung lainnya. Menjadi mustahil untuk mengubah koefikasi al-Qur’an baik nomor maupun hurufnya, karena kemustahilan itu muncul dari bukti yang nyata bahwa selama ini kita beraktivitas dengan sistem pengetahuan desimal, biner, dan alfabet. Mengubah kodefikasi al-Qur’an sama saja dengan menyatakan bahwa sistem desimal, biner, abjad/alfabet, kata-kata kita, mimpi-mimpi kita, angan-angan kita, dan apa yang tercerap oleh inderawi lahiriah maupun batiniah manusia “harus diubah”.

Al Qur’an dengan kodefikasi dan komposisinya saat ini adalah kitab suci yang menghimpun Wahyu Ilahi yang pernah sampai kepada manusia sebagai Bani Adam. Oleh karena itu al-Qur’an sejatinya merupakan suatu bukti bahwa semuanya akan kembali kepada Prima Kausa. 6236 ayat sebagai jumlah ayat al-Qur’an adalah bilangan optimum yang aktual bagi 23 untuk mencerap dirinya sebagai makhluk yang diciptakan dari keinginan dan kehendak Yang Esa, maka semua yang tercitra di alam 4 dimensi plus kesadaran atau dalam kontinuum Kesadaran-Ruang-Waktu sebagai sistem pengetahuan 23 sebagai manusia sejatinya hanya sekedar tampilnya Pengetahuan Yang Esa, dan sifat pengetahuan itu menjadi semu atau maya.

Muhammad Dan Pengungkapan Pengetahuan Tuhan Bagi Manusia

Al Qur'an bukanlah produk budaya lokal Arab meskipun ia diturunkan di tanah Arab. Ketika manusia yang meyakini Tuhan Yang Esa mengira al-Qur'an adalah produk budaya, maka ia menjadi syirik karena secara langsung menyatakan keterbatasan Tuhan, dengan kata lain ia tidak memahami sifat-sifat Tuhannya yang Maha Berpengetahuan sebagai Sumber Semua Pengetahuan. Tulisan diatas memang akhirnya harus disadari karena saya secara pribadi meyakini dan mengimani agama Islam sebagai agama Tauhid dimana sumber asal pengetahuan adalah Tuhan sebagai Prima Kausa sebagai suatu aksioma mutlak benar yang harus diyakini kebenarannya karena saya masih hidup di tatasurya dengan cerapan inderawi pada spektrum cahaya tampak dengan panjang gelombang 0,55 mikron. Penulis atau pembaca lain boleh saja tidak sepakat dan hal itu dan mencerminkan logika dan apa yang diyakininya.

Budaya adalah produk aktivitas manusia, namun budaya adalah implementasi praktis manusia yang terbatas atas anugerah yang sampai padanya karna pemahamannya tentang Pengetahuan Tuhan yang diberikan kepadanya untuk mengolah dan mencitarasakan dunianya, lengkap dengan konsekuensi dan akibat yang ditimbulkannya dengan aturan main yang tetap. Turunnya al-Qur'an di Mekkah adalah skenario yang sudah direncanakan sebelum manusia eksis. Kondisi demikian sebenarnya merujuk kepada pengertian yang tidak dipengaruhi ruang-waktu. Ketika Nabi Ibrahim a.s menemukan Tuhan, ia akhirnya membangun Kabah sebagai rumah ibadah, masjid, kuil, atau apapun penyebutan saat itu sebagai tempat untuk beribadah kepada Tuhan, sebagai simbolisme untuk memuja dan memuji Tuhan, tempat munajat dan doa dilantunkan. Bagi Umat islam, Ka’bah adalah kiblat sebagai simbolisme ketundukkan diri dalam kesatuan wujud yang mutlak karena keterbatasan inderawi fisikal maupun ruhaniahnya. Sehingga, arah shalat sebagai manifestasi ubudiyyahnya harus diarahkan kepada titik temu yang sama yaitu menghadap kiblat bukan mencla mencel tidak karuan. Kiblat yang sejati ada dalam diri semua manusia yang beriman dengan benar yaitu Qalb al-Mukminun sebagai tempat rendezvous antara “hamba dan Tuhannya”(‘Abd Allah). Ketika sejarah berkembang seperti apa yang telah menjadi ketentuan Tuhan, maka Mekkah kemudian menjadi tempat sakral manusia saat itu yang telah melupakan ajaran Ibrahim dan Ismail a.s dengan menjadi pemuja berhala. Persis seperti kondisi awal Nabi Ibrahim a.s ketika melihat realitas masyarakatnya yang pagan.

Model masyarakat Arab dengan kekhususan kaum Quraisy dimana Nabi Muhammad SAW lahir adalah model masyarakat sebagai individu dan kelompok yang menjadi ciri manusia umumnya. Artinya masyarakat saat itu, baik yang berada di Mekkah maupun di seluruh dunia mempunyai penampilan lahiriah maupun ruhaniah yang nyaris serupa, menjadi pagan total, tidak menauhidkan Tuhan, dan sebagian kecil lainnya tetap berada di jalan lurus mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa saat itu sebagai ambang batas dimana Pengetahuan Tuhan telah berubah menjadi berbagai bentuk.

Masyarakat Quraisy bisa dikatakan sebagai Global Village baik secara historis, maupun kenyataan yang ada saat itu. Maka saat itu juga lahirlah Muhammad SAW sebagai pembeda yang akan memurnikan kembali Tauhid sebagai ajaran yang meng-Esakan Tuhan. Tauhid dimulai di Mekkah dan dimurnikan kembali ditempat asalnya dimana ajaran itu muncul yaitu Ibrahim a.s. Jadi konteks budaya ketika kita menyimpulkan al-Qur'an sebagai produk budaya Arab sama sekali kurang tepat.

Meskipun dalam al-Qur'an tersirat lokalitas, namun globalitas pengetahuan masyarakat Arab dengan sistem bilangan dan abjadnyanya, yang akhirnya diterima Muhammad SAW sebagai wahyu lebih dominan. Karena itu al-Qur'an menjadi cermin Pengetahuan Tuhan yang tampak nyata dimana Nabi Muhammad SAW sebagai penerimanya karena sunnatullah yang pasti. Nabi Muhammad SAW pun menjadi cermin kesempurnaan Asma dan Sifat Tuhan (QS 9:128-129) yang menampilkan akhlak dan perilaku manusia yang mulia. Ia pun menjadi gambaran tentang sejarah hidup seorang manusia yang menerima Pengetahuan Tertinggi Tentang Segala Sesuatu. Nabi Muhammad SAW adalah maujud nyata dari “Knowledge Of Everything” dan ia sebagai Nabi dan Rasul adalah Utusan Allah sebagai Adimanusia atau Manusia Sempurna yang sesungguhnya menjadi gagasan awal dan akhir penciptaan makhluk. Oleh karena itu, kendati ia seorang Nabi dan Rasul , ia juga seorang manusia umumnya yang lahir, hidup, makan dan minum, beranak pinak, dan akhirnya mati, ia pun menjadi rujukan dan model bagi semua manusia khususnya rujukan akhlak dan perilakunya di semua zaman. Dengan demikian, setting budaya lokal sejatinya cuma sekedar cermin yang buram yang kemudian dibersihkan, akhlak yang tercela yang kemudian dimuliakan kembali, dengan kata lain perubahan dalam diri manusia di semua zaman sebenarnya terwakili oleh kondisi masyarakat Arab saat itu.

Al Qur’an sebagai Kitab Wahyu adalah al-Qur’an yang menjadi Dzikrul Lil Aalamin dan menjadi The Book Of Everything yang akan menjadi sumber pengetahuan yang optimum dimana pengetahuan masa lalu, masa kini, dan masa depan manusia tercermin didalamnya sebagai Wahyu Ilahi yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, al-Qur'an pun akhirnya bersinggungan dengan “square root of two” Phyagoras, golden ratio, bilangan, huruf, geometri, simbol, sejarah manusia, silsilah kenabian, baik dan buruk, perang dan damai, cinta dan benci, keakuan dan kepasrahan, Dzulkarnain dan Yakjuj-Makjuj, akal pikiran dan penyucian jiwa, surga dan neraka, teori kuantum, teori relativitas, dan akhirnya teori kuantum qolbu yang menuju kepada pengertian tentang Knowledge of Everything dalam perspektif fundamental dan luas, bukan dalam perpsektif yang sempit atau terinci meskipun isyarat perinciannya sesekali tampil dan diulas dengan ungkapan yang terselubung (simak makna surat al-Falaq dan teori nuklir atau pembelahan inti sel). Dan semua itu, sebenarnya mencakup kapasitas akal pikiran manusia yang mempunyai kemampuan tri-lateral, filosofis, logis, dan kreatif, yang sejatinya merupakan model penalaran otimum manusia ketika manusia menyatakan ketundukkan dirinya dihadapan Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Artinya, wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi al-Qur’an memang sesuai dengan kapasitas yang dapat dilaksanakan oleh manusia lainnya, dengan berbagai potensinya, dan akhirnya perbedaan akan muncul karena berbagai sebab yang menunjukkan kemajemukan sifat dan asma Tuhan Yang Maha Berpengetahuan.

Manusia secara umum didalam al-Qur'an dinyatakan sebagai bayangan kesempurnaan Pengetahuan Tuhan. Dan manusia yang menjadi abidin dan muslimun menjadi lokus penciptaan yang menjadi Nabi, Rasul, Wali , orang beriman dan akhirnya menjadi muslimin yang mengikuti sunnatulrasul untuk menunjukkan peran sentral peribadahan dan aktivitas muslimun sebagai cermin Tuhan. Dan satu mukmin adalah cermin dari mukmin lainnya. Ketika Muhammad menjadi cermin penampilan Pengetahuan Tuhan yang sempurna, maka ia adalah manusia paripurna yang menjadi cermin dimana Tuhan yang memegang cermin diri-Nya memantulkan cahaya ke cermin-cermin-Nya yang lain (yang sudah menjadi buram, setengah bersih, atau sudah jernih) menimbulkan cermin dalam cermin, maka dikatakannya mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya dalam berbagai bentuk dan ukuran yang tertentu (potensi tertentu dan nyaris tidak sama seperti keunikan sidik jari manusia), namun dengan kesempurnaan yang serupa karena kepatuhannya untuk menjernihkan cermin yang ada padanya yaitu qolbu yang jernih yang menjadi qolbu mukminin, yang mampu menampung Arasy Allah. Kesamaan itu menjadi tampil ketika Umat Islam shalat, baik sendiri-sendrii maupun berjamaah, untuk kemudian kesempurnaan yang sama itu tampil secara lahiriah dengan ibadah Haji bagi yang memang mampu sebagai suatu keringannan universal karena potensi manusia yang berbeda-beda dalam aspek fisik dan lahiriah semata.

Karena itu tidak ada relevansinya menyatakan al-Qur'an produk budaya Arab walaupun pentas dimana al-Qur'an diturunkan berada di tanah Arab karena segi historis dan pemodelan manusia yang ada saat itu memenuhi kriteria manusia maupun masyarakat yang berlaku sepanjang masa, yaitu manusia yang memiliki kesombongan seperti gunung batu al-Hijr, yang hatinya bolak balik tidak menentu, namun juga manusia yang dapat memiliki kesempurnaan sebagai “insaana fii ahsaani takwiim”.

Al-Qur'an adalah produk Pengetahuan Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui esensi makhluk pertama yang diciptakan-Nya yang lahiriahnya menjadi Nabi Muhammad SAW. Sehingga pengetahuan yang tersirat didalamnya mencakup segala pengetahuan yang dipahami manusia sepanjang masa, khususnya pengetahuan yang berlandaskan kepada kontinuum kesadaran-ruang-waktu yang tak lain merupaan model hubungan Pencipta-Makhluk, Tuhan-manusia karena sejak awal dan akhir penampilan Pengetahuan Tuhan adalah pengenalan dari rahasia-Nya yang menjadi harta terpendam semua manusia yaitu dirinya sendiri yang menjadi cermin dimana Pengetahuan Tuhan dapat menetap dan manusia mampu kembali kepada-Nya dengan selamat. Karena itu manusia mengenal-Nya karena-Nya, bukan karena kemampuannya yang sejatinya sangat lemah.

Apapun pengetahuan Tuhan yang telah disampaikan sebagai al-Qur’an pada akhirnya akan berguna bila ia menetap dalam qolbu manusia yang menjadikannya sebagai pedoman dalam semua aktivitasnya. Sehingga al-Qur’an yang suci dan bukan makhluk sejatinya al-Qur’an yang nilai-nilainya teraktivasikan dari akal pikiran dan jiwa yang paling jernih, menetap dalam hati dan menjadi bagian dari aktivitas manusia di ladang maghfirah-nya yang terbentang sebagai dunia dan alam semesta. Tanpa penetapan al-Qur’an dengan al-Yaqin, maka al-Qur’an sekedar makhluk yang menjadi pajangan di masjid-masjid, rumah-rumah, perpustakaan, atau sekedar menjadi hiasan lahiriah saja yang mengundang datangnya syirik dan kedengkian.

Huwa.
Qul huwallahu Ahad,
Allaahu Shamad,
Lam yalid walam yulad
wa laam yaqulla hu quffuwan ahad.

Allahu Laailaha illa huwal hayyul qayyum
Bismillahirrahmanirrahiim,
Alhamdulillahi rabbil aalamin
Ar Rahmanir rahiim
Maliki yaumid diin
Iyyaaka naqbudu wa iyya kanastaain
ihdinash shirathaal mustaqiim,
shiratala ladzina anamta alaihim ghairil maghdubi alaihim walad dzolin

Laa Haula wala quwwata illaa billah
Laa ilaaha illaa Allah,Muhammadurrasululah.

Huwal Awwaalu wal aakhiruu
wazh zhaahiru wal baathinu

wa huwa bi kulli syaiin 'aliim

Amiin

Jumat, 20 Februari 2009

kenalan

salam kenal..., ne bru coba buat blog